Berawal dari terbunuhnya Nasrudin Zulkarnaen, penahanan Bibit Chandra dan lenyapnya uang nasabah Bank Century, Susno Duadji yang saat itu menjabat sebagai Kabareskrim namanya mendadak jadi bahan obrolan sehari-hari masyarakat kita. Kelas elit, kelas pailit, kelas kakap, kelas teri, sampai yang tak berkelaspun ambil bagian mengomentari sepak terjangnya. Masa bodoh harga beras melambung tinggi, rupanya bagi petani miskin, nelayan miskin, guru miskin, ustad miskin sampai orang tak berstatus yang miskin, membicarakan atau mengumpat orang atas adalah pelipur lara untuk menghilangkan kekesalan hati dari ketidak-becusan kerja orang atas.
Ibrahim bin Ismail Azzurnuji, yang tergugat yang terlupakan
Dzakain wa hirsin wastibarin wa bulghotin wa isryadi ustadzin wa tuli zamanin. Siapa tak hafal syair diatas.
Juli 2005, dalam rangka peninjauan “begitu gaya pejabat bertutur dalam kunjungannyaâ€. Sewaktu pertama kali saya menginjakan kaki di bumi al Hikmah 2, dari lantai atas SMA Al Hikmah sayup-sayup terdengar sekelompok anak santri dengan serempak melagukan beberapa bait nadhom Ta’limul Muta’allim karya syekh Ibrahim bin Ismail Azzurnuji. Belakangan syair inilah yang mengiringi keteguhan hati saya untuk menuntut ilmu dipesantren rintisan KH. Kholil bin Mahalli dan KH. Suhaimi. » Continue Reading
PLAGIARISME
¬¬¬¬
Pekan lalu tanggal 4 Juni saya menyempatkan diri mencari literatur diinternet sebagai bahan pendukung tugas membuat karya ilmiah. Naah! ga dinyana saya menemukan satu postingan yang kebetulan cocok untuk bahan tulisan. Dalam hati, saya berbunga-bunga, mirip serdadu amerika yang mendapatkan air setelah dua hari menyusuri terjalnya gurun Afganistan. Tapi membaca komentar postingan itu saya dibuat terkejut karena sang komentator menguraikan kalimatnya dengan bahasa emosi yang meluap-luap (seperti luapan air situ gintung kali ya).
Jujur inilah kali pertama saya membaca komentar diblog yang panjangnya hampir sama dengan belalai gurita raksasa. kata-kata saya mungkin sangat berlebihan, tapi inilah yang saya rasakan. Sungguh tak wajar seorang pembaca ikut terteror kata-kata yang ditunjukkan buat sipenulis, yah walaupun hal semacam ini terkadang kita alami dalam kehidupan nyata. Saya tak sedang berapologi dengan apa yang saya alami waktu itu dan anda punya hak melakukan negasi atas pendapat ini. Tapi saya tak pernah menyesal, karena komentar itulah yang membuat saya bisa berbagi cerita pada kalian.
Lalu apa inti komentarnya? Sedikit banyak masih ingat †Bapak X yang saya hormati, postingan anda benar-benar sangat menarik, menarik sekali. Sangat jarang para ekonom kita yang mampu mengupas rumitnya efek krisis global yang menimpa sebagian besar negara didunia saat ini. Anda tidak hanya menjelaskan dampak buruk krisis yang akan menghambat laju perekonomian dunia, saham-saham yang berguguran, karyawan-karyawan yang dirumahkan atau radiasi krisis global yang menyebabkan angka kriminalitas disuatu negara khususnya Indonesia ini terus meningkat. Lebih dari itu anda mengungkap sisi-sisi sempit yang sering terlupakan oleh kebanyakan para pakar, “bahwa disaat negara ini makin terpuruk, kita lebih banyak berkata dari pada berbuat, kita lebih banyak menggerutu dari pada berkreasi. Kita lebih suka meniru dan bukan mencipta. Apakah karena negara kita menganut sistem demokrasi sehingga rakyatnya pandai berbicara, membual tak karuan hingga mulutnya berbusa-busa, pandai menggerutu, pandai meniru dan yang pasti solusi anda tentu dibutuhkan oleh banyak orang .
Bapak X, pada halaman perkenalan saya membaca bahwa anda adalah seorang Magister lulusan perguruan tinggi terkemuka dinegeri ini. Mencermati kurikulum vitae dan halaman perkenalan diblog anda, saya yakin bahwa anda hidup dilingkungan keluarga yang religius. Saya yakin sejak kecil anda telah dilatih menjadi pria yang taat beragama. Orang semacam anda akan menjadi pembeda perjalanan bangsa yang sedang ling-lung ini. Sungguh sangat mengesankan.
Tapi, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan pada anda. Pertama- Apakah postingan diatas benar-benar karya anda?. Setahu saya artikel diatas ada dalam sebuah buku karya Bapak XX dan telah diterbitkan 4 bulan yang lalu oleh penerbit R. Kedua- Mengapa pada bagian akhir artikel, anda tidak menyebutkan sumbernya? Ketiga- Mengapa pada bagian bawah judul, anda tuliskan nama sendiri padahal sudah jelas jika itu bukan karya anda. Dan apakah sebelumnya anda telah meminta izin pada penulisnya ? Mohon dijawab! Kurang lebih komentarnya demikian. Intinya komentator tidak setuju dengan gaya postingan bapak X yang mengesankan pada pembaca seolah-olah dialah penulis sesungguhnya.
Hemat saya, Siapapun orangnya entah berprofesi sebagai penulis, novelis, cerpenis atau is is lainnya, pasti ingin agar karyanya dihargai secara layak. Saya tidak perlu memberitahu bagaimana cara menghargai karya orang lain. Saya hanya ingin menegaskan, bahwa sekali kita merasa nyaman bersembunyi dibalik bayang orang lain, maka sejatinya saat itu kehidupan kita telah terhenti. Apa yang kita harapkan dari bayangan! Kita hanya akan menjadi subyek yang diikat oleh ruang.
Disini saya merasa diingatkan oleh sebuah istilah yang sangat familier sekali bagi orang-orang yang tersebut diatas. Pastinya istilah itu adalah “PLAGIARISMEâ€. Heemm anda mungkin penasaran, kira-kira siapa sih orang yang berani kasih komentar semacam itu?. Sedikit bocoran, dia adalah salah satu staf penerbit buku terkemuka di Indonesia yang menerbitkan karya milik bapak XX.
Sampai pada akhir komentar saya merenung agak lama. Harapannya tentu agar mendapatkan intuisi dari perenungan yang saya lakukan. Tapi karena jarang melatih diri untuk berkontemplasi, semakin lama saya merenung, pikiran dan hati ini justru semakin tak padu. Dalam hati, plagiat sebuah kejahatan bagaimanapun bentuk dan caranya. Pikir saya menghendaki plagiat tidaklah mutlak sebuah kejahatan. Kalau begitu bagaimana dengan anda, manakah yang benar ?
Dikisahkan, ada sebuah keluarga besar. Kakek dan nenek mereka merupakan pasangan suami istri yang tampak serasi dan selalu harmonis satu sama lain. Suatu hari, saat berkumpul bersama, si cucu bertanya kepada mereka berdua, “Kakek, Nenek, tolong beritahu kepada kami resep akur dan cara Kakek dan Nenek mempertahan cinta selama ini agar kami yang muda-muda bisa belajar.” » Continue Reading
“Namaku Linda. Aku memiliki sebuah kisah cinta yang memberiku sebuah pelajaran tentangnya. Ini bukanlah sebuah kisah cinta hebat dan mengagumkan penuh gairah seperti dalam novel-novel roman, walau begitu menurutku ini adalah kisah yang jauh lebih mengagumkan dari itu semua. Ini adalah kisah cinta ayahku, Mohammed Huda alhabsyi dan ibuku, Yasmine Ghauri. » Continue Reading
Suatu ketika, ada seorang perempuan yang kembali pulang ke rumah,dan ia melihat ada 3 orang laki-laki berjanggut yang duduk di halaman depan. Perempuan itu tidak mengenal mereka semua. Perempuan itu berkata: “Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk menganjal perut. Laki-laki berjanggut itu lalu balik bertanya, “Apakah suamimu sudah pulang? Perempuan itu menjawab, “Belum, dia sedang keluar. “Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali, kata laki-laki itu. » Continue Reading
Bertahun-tahun yang lalu, Aku berdoa kepada Tuhan untuk memberikan pasangan hidup, “Engkau tidak memiliki pasangan karena engkau tidak memintanya”, Tuhan menjawab. Tidak hanya Aku meminta kepada Tuhan, Aku menjelaskan kriteria pasangan yang kuinginkan. Aku menginginkan pasangan yang baik hati, lembut, mudah mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh pengertian, pintar, humoris, penuh perhatian. Aku bahkan memberikan kriteria pasangan tersebut secara fisik yang selama ini kuimpikan. Sejalan dengan berlalunya waktu, Aku menambahkan daftar kriteria yang kuinginkan dalam pasanganku. » Continue Reading
“Berusahalah untuk selalu menjadi pihak pertama yang menunjukkan cinta dan perhatian Anda kepada orang lain. Jangan menuntut perhatian dan cinta mereka untuk diperlihatkan lebih dahulu. Itulah satu-satunya cara yang saya ketahui untuk ke luar dari kegelapan hidup,” demikian dikatakan Ny.Eunice Chew (52 tahun), salah satu finalis pemilihan ibu teladan se-Singapura tahun lalu. Diadopsi oleh pasangan Teochew yang kaya-raya dan sudah memiliki seorang putra tapi masih ingin punya anak perempuan, maka masa kanak-kanak Chew dipenuhi kemewahan. Liburan keluarga sering dilewatkan diluar negeri. Pasangan Teochew menyayangi putrinya dengan cara mereka. » Continue Reading
Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat, itulah kesempatan. Ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik, itu bukan pilihan, itupun kesempatan. Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan, itupun adalah kesempatan. Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut, Bahkan dengan segala kekurangannya, itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan. Ketika kita memilih bersama dengan seseorang walaupun apapun yang terjadi, itu adalah pilihan. Bahkan ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya daripada pasanganmu dan tetap memilih untuk mencintainya, itulah pilihan. » Continue Reading
Di sebuah kota kecil yang tenang dan indah, ada sepasang laki-laki dan perempuan yang saling mencintai. Mereka selalu bersama memandang matahari terbit di puncak gunung, bersama di pesisir pantai menghantar matahari senja. Setiap orang yang bertemu dengan mereka tidak bisa tidak akan menghantar dengan pandangan kagum dan doa bahagia. Mereka saling mengasihi satu sama lain Namun pada suatu hari, malang sang lelaki mengalami luka berat akibat sebuah kecelakaan. Ia berbaring di atas ranjang pasien beberapa malam tidak sadarkan diri di rumah sakit. Siang hari sang perempuan menjaga di depan ranjang dan dengan tiada henti memanggil-memanggil kekasih yang tidak sadar sedikitpun. Malamnya ia ke gereja kecil di kota tersebut dan tak lupa berdoa kepada Tuhan Agar kekasihnya selamat. Air matanya sendiri hampir kering karena menangis sepanjang hari. » Continue Reading