PLAGIARISME
¬¬¬¬
Pekan lalu tanggal 4 Juni saya menyempatkan diri mencari literatur diinternet sebagai bahan pendukung tugas membuat karya ilmiah. Naah! ga dinyana saya menemukan satu postingan yang kebetulan cocok untuk bahan tulisan. Dalam hati, saya berbunga-bunga, mirip serdadu amerika yang mendapatkan air setelah dua hari menyusuri terjalnya gurun Afganistan. Tapi membaca komentar postingan itu saya dibuat terkejut karena sang komentator menguraikan kalimatnya dengan bahasa emosi yang meluap-luap (seperti luapan air situ gintung kali ya).
Jujur inilah kali pertama saya membaca komentar diblog yang panjangnya hampir sama dengan belalai gurita raksasa. kata-kata saya mungkin sangat berlebihan, tapi inilah yang saya rasakan. Sungguh tak wajar seorang pembaca ikut terteror kata-kata yang ditunjukkan buat sipenulis, yah walaupun hal semacam ini terkadang kita alami dalam kehidupan nyata. Saya tak sedang berapologi dengan apa yang saya alami waktu itu dan anda punya hak melakukan negasi atas pendapat ini. Tapi saya tak pernah menyesal, karena komentar itulah yang membuat saya bisa berbagi cerita pada kalian.
Lalu apa inti komentarnya? Sedikit banyak masih ingat †Bapak X yang saya hormati, postingan anda benar-benar sangat menarik, menarik sekali. Sangat jarang para ekonom kita yang mampu mengupas rumitnya efek krisis global yang menimpa sebagian besar negara didunia saat ini. Anda tidak hanya menjelaskan dampak buruk krisis yang akan menghambat laju perekonomian dunia, saham-saham yang berguguran, karyawan-karyawan yang dirumahkan atau radiasi krisis global yang menyebabkan angka kriminalitas disuatu negara khususnya Indonesia ini terus meningkat. Lebih dari itu anda mengungkap sisi-sisi sempit yang sering terlupakan oleh kebanyakan para pakar, “bahwa disaat negara ini makin terpuruk, kita lebih banyak berkata dari pada berbuat, kita lebih banyak menggerutu dari pada berkreasi. Kita lebih suka meniru dan bukan mencipta. Apakah karena negara kita menganut sistem demokrasi sehingga rakyatnya pandai berbicara, membual tak karuan hingga mulutnya berbusa-busa, pandai menggerutu, pandai meniru dan yang pasti solusi anda tentu dibutuhkan oleh banyak orang .
Bapak X, pada halaman perkenalan saya membaca bahwa anda adalah seorang Magister lulusan perguruan tinggi terkemuka dinegeri ini. Mencermati kurikulum vitae dan halaman perkenalan diblog anda, saya yakin bahwa anda hidup dilingkungan keluarga yang religius. Saya yakin sejak kecil anda telah dilatih menjadi pria yang taat beragama. Orang semacam anda akan menjadi pembeda perjalanan bangsa yang sedang ling-lung ini. Sungguh sangat mengesankan.
Tapi, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan pada anda. Pertama- Apakah postingan diatas benar-benar karya anda?. Setahu saya artikel diatas ada dalam sebuah buku karya Bapak XX dan telah diterbitkan 4 bulan yang lalu oleh penerbit R. Kedua- Mengapa pada bagian akhir artikel, anda tidak menyebutkan sumbernya? Ketiga- Mengapa pada bagian bawah judul, anda tuliskan nama sendiri padahal sudah jelas jika itu bukan karya anda. Dan apakah sebelumnya anda telah meminta izin pada penulisnya ? Mohon dijawab! Kurang lebih komentarnya demikian. Intinya komentator tidak setuju dengan gaya postingan bapak X yang mengesankan pada pembaca seolah-olah dialah penulis sesungguhnya.
Hemat saya, Siapapun orangnya entah berprofesi sebagai penulis, novelis, cerpenis atau is is lainnya, pasti ingin agar karyanya dihargai secara layak. Saya tidak perlu memberitahu bagaimana cara menghargai karya orang lain. Saya hanya ingin menegaskan, bahwa sekali kita merasa nyaman bersembunyi dibalik bayang orang lain, maka sejatinya saat itu kehidupan kita telah terhenti. Apa yang kita harapkan dari bayangan! Kita hanya akan menjadi subyek yang diikat oleh ruang.
Disini saya merasa diingatkan oleh sebuah istilah yang sangat familier sekali bagi orang-orang yang tersebut diatas. Pastinya istilah itu adalah “PLAGIARISMEâ€. Heemm anda mungkin penasaran, kira-kira siapa sih orang yang berani kasih komentar semacam itu?. Sedikit bocoran, dia adalah salah satu staf penerbit buku terkemuka di Indonesia yang menerbitkan karya milik bapak XX.
Sampai pada akhir komentar saya merenung agak lama. Harapannya tentu agar mendapatkan intuisi dari perenungan yang saya lakukan. Tapi karena jarang melatih diri untuk berkontemplasi, semakin lama saya merenung, pikiran dan hati ini justru semakin tak padu. Dalam hati, plagiat sebuah kejahatan bagaimanapun bentuk dan caranya. Pikir saya menghendaki plagiat tidaklah mutlak sebuah kejahatan. Kalau begitu bagaimana dengan anda, manakah yang benar ?
kasus yang sama menimpa teman saya di jogja yang tugas akhirnya tentang sistem rumah sakit dibajak persis oleh sebuah blog. Konyolnya, blog tersebut dimiliki oleh seorang dosen di salah satu PT terkenal.
karuan teman saya mencak-mencak, dia tak tahu apa yang harus dilakukan. karena memang kebangetan, mau menjiplak saja harus sama persis, tak ada upaya untuk mengkamuflase agar tidak tampak plagiat.
Ungkapan, omongan, titah, pengalaman hidup silakan dijiplak (walau tetap tidak etis juga), tapi janganlah thp karya ilmiah, skripsi yang bikinnya tentu penuh peras otak.
Maka saya bisa memahami bila ada komentator diatas yang sedemikian emosinya. karena plagiat memang kejahatan, menyakiti hati pembuatnya!
Dan saya ilfil sekali jika mendapati blog yang isinya kutipan mulu walau isinya bagus dan menarik, langsung copypaste secara utuh tanpa diolah sedikitpun. Meski sudah disebutkan sumbernya, tetap nggak sreg. kenapa tidak dikembangkan saja berdasar sumber tadi.
June 12, 2009 @ 6:57 amasyik!!! pertamax….
June 12, 2009 @ 7:39 amGood Posting..
June 12, 2009 @ 9:28 pmSalam
Ternyata anda bagus dalam menulis ya..
lanjutkan…
Sya dukung 100%
Smg anda tidak bosan2 untuk menulis
yang bermanfaat..
Anda Bakat…
jadi malu …… ternyata mas novi duluan …..
June 14, 2009 @ 4:09 pmhuaaa……..huaaaaaaaa
itu mah bukan ketawa tapi nangis ….
June 14, 2009 @ 5:52 pmpaling aman ngutip Al Quran… sudah patent harus “turut” mengutip dan menyebarkan…
March 26, 2010 @ 8:19 pm