Mata Air Kehidupan ditengah padang gersang

Berawal dari terbunuhnya Nasrudin Zulkarnaen, penahanan Bibit Chandra dan lenyapnya uang nasabah Bank Century, Susno Duadji yang saat itu menjabat sebagai Kabareskrim namanya mendadak jadi bahan obrolan sehari-hari masyarakat kita. Kelas elit, kelas pailit, kelas kakap, kelas teri, sampai yang tak berkelaspun ambil bagian mengomentari sepak terjangnya. Masa bodoh harga beras melambung tinggi, rupanya bagi petani miskin, nelayan miskin, guru miskin, ustad miskin sampai orang tak berstatus yang miskin, membicarakan atau mengumpat orang atas adalah pelipur lara untuk menghilangkan kekesalan hati dari ketidak-becusan kerja orang atas.

Susno Duadji, sepintas namanya njawani, tapi gayanya tidak demikian. Dia pribadi extrover, blak-blakan, dan tidak takut salah. Sama seperti Gus Dur yang suka blak-blakan. Perbedaannya cuma satu, jika Susno berbintang tiga Gus Dur berbintang sembilan. Didunia ini tidak ada jendral dari Polri ataupun TNI yang bintangnya sebanyak Gus Dur, barangkali guyonan ini karena beliau dianggap sebagai anomali dari orang-orang berbintang.

Tralala-Trilili

Pangkal masalah Susno bagi kita yang awam boleh dibilang sederhana, tapi tidak sesederhana menurut institusinya beliau. Ia dianggap berulah melanggar peraturan dan kode etik ditubuh polri karena hadir sebagai saksi dalam persidangan antasari berseragam lengkap tanpa disertai izin tertulis dari atasan. Sebagai masyarakat yang kurang melek hukum kita tidak habis pikir mengapa negara ini terlalu formal dalam segala aturan. Idealisme harus dijunjung tinggi namun toleransi juga harus diberi tempat yang proporsional. Sikap reaktif petinggi Polri yang dadakan sesaat setelah Susno menjadi saksi menimbulkan kecurigaan publik. Hal ini diperkuat dengan penyitaan fasilitas khusus Susno mulai dari ajudan, rumah dinas, mobil dinas, supir, dan pengawalnya. Pantaskah jika kesalahan Susno karena memakai seragam dan hadir kepersidangan tanpa izin tertulis atasannya dihukum dengan pencabutan fasilitas khusus sebagai petinggi bahkan terancam dicopot dari kesatuannya tidak dengan hormat. Apa yang dilakukan polri akan menjadi absurd jika mengacu pada asas praduga tak bersalah.

Konon upaya tersebut hanyalah salah satu trik agar Susno tidak banyak bernyanyi. Benar atau salah kehadiran Susno sebagai saksi yang dapat memperingan hukuman antasari dipicu akibat sentimen kepangkatan. Menurut cerita yang beredar beliau hampir saja diangkat menjadi wakapolri akan tetapi dikemudian hari justru kabareskrimlah yang kemudian diembannya. Terlebih setelah marak tuntutan mundur sebagai kabareskrim karena menangkap dua petinggi KPK atas dugaan penyalahgunaan wewenang.

Susnopun mundur. Lebih tepatnya dimundurkan oleh Kapolri. Menurut pengakuan beliau dimedia sebenarnya ketika Kapolri membacakan surat keputusan mundur dihadapan anggota DPR, ia sama sekali tidak diberitahu terlebih dahulu. Saat pembacaan SK tampak dilayar televisi Susno tertunduk dan berkali-kali menyeka air matanya. Kasihan, Susno sekarang bingung siapa yang sebenarnya pantas ia anggap sebagai kawan.

Antasari dan Susno ditakdirkan tuhan lahir dan tumbuh didaerah yang sama, sumatera selatan. Kesaksiannya dalam persidangan antasari dan pernyataanya dihadapan ‘yang mulia’ dinilai banyak pihak yang berseberangan dengan beliau terkesan subyektif. Apalagi Susno sering mejeng dilayar dan bernyanyi sesuka hati sudah pasti membuat banyak orang dalam lingkaran Polri menjadi gerah. Tralala-Trilili Susno tidak sama seperti tralala-trilili dhea imut. Nyanyiannya bisa menimbulkan interseksi sesama petinggi, sangat membahayakan reputasi orang-orang berpangkat, bahkan kata-kata yang keluar dari mulutnya bisa membuat banyak pejabat masuk bui. Teramat banyak rahasia yang Susno ketahui tentu menjadi sengat mematikan. Benar kata pribahasa, sepanjang-panjang tali tidak sepanjang mulut manusia, rahasia yang sudah terbongkar pasti akan cepat menyebar.

Pesan mulia

Orang tua kita sering menasehati anaknya jika jam sekolah selesai segeralah pulang. Jangan pergi keluyuran yang tidak ada gunanya atau mendatangi tempat ramai yang banyak dikerumuni manusia. Pengalaman membuktikan satu orang atau sekelompok kecil yang dituduh bersalah oleh sekelompok besar, maka yang datang belakangan cenderung ikut menjadi bagian dari kelompok besar, bahkan mungkin paling lantang untuk menyalahkan padahal dia tidak tahu apa-apa. Itulah yang tidak diinginkan oleh orang tua terhadap anaknya. Sederhana bukan? celakanya terhadap kasus Susno kita termasuk golongan orang yang datang belakangan.

Kasus penangkapan Bibit Chandra membuat masyarakat Indonesia yang kadung cinta berat terhadap KPK teramat membenci Susno. Masyarakat kita lupa pesan orang tua karena mungkin setelah tidak bersekolah tidak pernah lagi mendengar nasehat mulia orang tuanya. Ketika Susno harus berdiri sendiri menghadapi tudingan banyak pihak, menjawab pertanyaan para wartawan atau memenuhi panggilan wakil rakyat, jarang sekali ada pembelaan untuk dirinya. Yang ada hanyalah stigma bahwa dia laki-laki yang arogan, ceroboh, dan sok jagoan.

Jangan remehkan facebooker.

Masih hangat dalam ingatan ketika Bibit Chandra dibebaskan dari penjara. Jangan bilang itu karena kerja Adnan Buyung cs. Jejaring sosial facebook punya andil besar. facebooker ramai-ramai memberikan dukungannya melalui akun grup seperti 1.000.000 dukung Bibit Chandra, dukung cicak lawan buaya, dukung KPK.

Selain dua pentolan KPK, Prita Mulyasari adalah salah satu orang yang merasakan jasa facebooker. Ketika itu Prita Mulyasari digugat telah melakukan perbuatan pencemaran nama baik terhadap Rumah Sakit Omni Internasional Tangerang. Bagi kita Prita ibarat kurcaci yang harus bertempur melawan Buto Ijo, mustahil menang. Berurusan dengan meja hijau sama seperti duduk didepan meja judi. Harus siap menanggung kemungkinan terburuk yang akan menimpa. Semua tahu menyewa advokat tidaklah murah. Ini berarti Prita harus memecah celengan atau menghitung ulang asetnya. Jatuh bangun menghadapi Buto Ijo kurcaci hadapi dengan tabah. masuk LP, dibebaskanpun masih berstatus sebagai tahanan rumah. Prita berkali-kali harus hadir kepengadilan. Tidak seperti orang kaya dan berkuasa yang jika kepalanya pusing sedikit cukup mewakilkan pada pengacaranya agar hadir kepersidangan.

Prita tidak putus asa, ia optimis mampu menghadapinya dengan tegar sebab ia memiliki tuhan yang akan menolongnya. Melalui do’a yang ia panjatkan setiap saat kapan dan dimanapun. Do’a prita didengar tuhan, bahkan facebookerpun mendengar do’anya. Lantas mereka ramai-ramai menggalang dukungan melalui grup dukung prita, dukung Prita Mulyasari, dukung bebas murnikan prita dari bui, Sukses.

Fenomena pemanfaatan facebook di Indonesia sebagai media menyampaikan bentuk solidaritas tampaknya akan terus berkembang. Susno yang kini sendirian tidak perlu ragu untuk menyuarakan kebenaran. Biarpun sohib-sohibnya berangsur menepi mencari payung berlindung, membuka mata dan telinga rakyat Indonesia akan mengkonversi kebencian terhadap dirinya menjadi cinta. Cinta hadir dukungan facebooker mengalir. Bukan tidak mungkin dukungan facebooker terhadap dirinya akan melampaui angka yang diperoleh Bibit dan Chandra.

Titik kulminasi

Banyak orang mudah dikenali karena kata-katanya yang pepuler ditelinga orang. Mendengar kata-katanya memudahkan orang untuk mengingat sosoknya. Mendengar kata ‘begitu saja kok repot‘ maka afiliasi orang akan tertuju kepada Gus Dur. Mendengar kata ‘wong ndeso’ orang pasti ingat Tukul Arwana alias Riyanto. Begitu pula Susno Duadji, kata ‘cicak dan buaya’ yang terlontar dari mulutnya menjadikan dirinya populer ditengah masyarakat. Tidak main-main efeknya, sampai-sampai SBY merasa resah dengan kata tersebut.

Sekarang tidak ada lagi perseteruan cicak buaya. Yang ada adalah induk buaya uring-uringan melihat tingkah anaknya. Masa depan Susno tergantung dirinya sendiri. Ia seperti makan buah simalakama. Ia harus memilih, pertama- menuruti kemauan institusi padahal nyata-nyata sisa waktu menunggu pensiun tinggal dua tahun lagi. Kedua- berbicara lantang didepan publik dan memberikan pencerahan kepada masyarakat tetapi mengorbankan keselamatan diri dan keluarga. Susno adalah sang buaya sejati, baginya dicap sebagai buaya penghianat lebih terhormat daripada dianggap buaya banci. Ia pernah berujar saat diwawancarai oleh kru Tvone ‘apa yang aku lakukan adalah untuk bangsa dan negaraku, aku katakan apa yang aku tahu, aku tidak mengada-ada’. Jika benar demikian, sepertinya pilihan kedua adalah pilihan terbaik bagi dia walaupun harus menanggung resiko yang tidak kecil. Benar-benar menguji hati nurani.

Cerita Susno belum usai. Interseksi sesama petinggi memang benar adanya, malah memicu terjadinya friksi ditubuh Polri. Pro kontra yang menghendaki perlu diteruskan atau dihentikan pengusutan terhadap beliaupun terus mengalir. Perlahan namun pasti dukungan facebookerpun mulai membanjir. Optimisme mulai nampak diwajahnya.

Susno Duadji, apa yang akan anda katakan, kami siap dengarkan. Apa yang akan anda buktikan, kami siap saksikan. SBY pernah berkata, LANJUTKAN… Wallahu A’lam.

Posted by faza on January 17th, 2010 at 4:31 pm


7 Responses to “Menguji Hati Nurani Susno”
  1. 1
      novi says:

    serapat-rapat bangkai disimpan tetap bau juga.

    semoga keadilan mewarnai negeri ini

    kepada susno saya angkat topi acung jempol. salute

    kalo angkat topi jangan tinggi -tinggi ya mas ntar anak2 pada mabok

  2. 3
      putupondokbalong says:

    Susno emang benar-benar mengakibatkan pro dan kontra, dulu Susno dihujat hampir semua orang yang mengaku pembela KPK, tapi sekarang bahkan Adnan Buyung yang notabene sebagai Pendukung KPK paling santer, pernah menyebut susno sebagai pahlawan karena keberaniannya bersaksi di persidangan Antasari.

    Permainan Politik, benar-benar bikin ketagihan kaya nonton sinetron……ada juga itu bentuk permainan rivalitas di tubuh Polri antara angkatan 77 dgn 78, atau bentuk perselesihan antara Susno dengan kapolri BDH.

    Mari kita tunggu hasilnya, siapakah yang akan muncul sebagai pemenang.

    menunggu siapa yang menang membutuhkan waktu yang panjang. dinegeri ini konflik yang ditunggangi banyak kepentingan endingnya selalu abu-abu

  3. 5
      wong says:

    acung jempol deh buat yang posting ……..

  4. 7

    kita lihat saja nanti.siapa benar siapa salah hanya Allah SWT yang tahu…

  5. 9
      sawali tuhusetya says:

    sepertinya pak susno makin populer di mata publik. sayangnya, popularitasnya mulai surut seiring dengan keberhasilan aparat polisi memburu para teroris, hehe …