<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>OASE</title>
	<atom:link href="http://faza.blogmalhikdua.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://faza.blogmalhikdua.com</link>
	<description>Mata Air Kehidupan ditengah padang gersang</description>
	<lastBuildDate>Sun, 17 Jan 2010 09:31:54 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://blogmalhikdua.com/?v=2.9.1</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Menguji Hati Nurani Susno</title>
		<link>http://faza.blogmalhikdua.com/2010/01/17/menguji-hati-nurani-susno-2/</link>
		<comments>http://faza.blogmalhikdua.com/2010/01/17/menguji-hati-nurani-susno-2/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 17 Jan 2010 09:31:54 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faza.blogmalhikdua.com/?p=91</guid>
		<description><![CDATA[Berawal dari terbunuhnya Nasrudin Zulkarnaen, penahanan Bibit Chandra dan lenyapnya uang nasabah Bank Century, Susno Duadji yang saat itu menjabat sebagai Kabareskrim namanya mendadak jadi bahan obrolan sehari-hari masyarakat kita. Kelas elit, kelas pailit, kelas kakap, kelas teri, sampai yang tak berkelaspun ambil bagian mengomentari sepak terjangnya. Masa bodoh harga beras melambung tinggi, rupanya bagi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%"><span><!--[if gte vml 1]&gt;                    &lt;![endif]--><!--[if !vml]--></span>Berawal dari terbunuhnya Nasrudin Zulkarnaen, penahanan Bibit Chandra dan lenyapnya uang nasabah Bank Century, Susno Duadji yang saat itu menjabat sebagai Kabareskrim namanya mendadak jadi bahan obrolan sehari-hari masyarakat kita.<span> </span>Kelas elit, kelas pailit, kelas kakap, kelas teri, sampai yang tak berkelaspun ambil bagian mengomentari sepak terjangnya. Masa bodoh harga beras melambung tinggi, rupanya bagi petani miskin, nelayan miskin, guru miskin, ustad miskin sampai orang tak berstatus yang miskin, membicarakan atau mengumpat <em>orang atas</em> adalah pelipur lara untuk menghilangkan kekesalan hati dari <em>ketidak-becusan</em> kerja orang atas.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%"><span id="more-91"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%">Susno Duadji, sepintas namanya <em>njawani</em>, tapi gayanya tidak demikian. Dia pribadi extrover, blak-blakan, dan tidak takut salah. Sama seperti Gus Dur yang suka blak-blakan. Perbedaannya cuma satu, jika Susno berbintang tiga Gus Dur berbintang sembilan. Didunia ini tidak ada jendral dari Polri ataupun TNI yang bintangnya sebanyak Gus Dur, barangkali guyonan ini karena beliau dianggap sebagai anomali dari orang-orang berbintang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%"><strong>Tralala-Trilili</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%">Pangkal masalah Susno bagi kita yang awam boleh dibilang sederhana, tapi tidak sesederhana menurut institusinya beliau. Ia dianggap berulah melanggar peraturan dan kode etik ditubuh polri karena hadir sebagai saksi dalam persidangan antasari berseragam lengkap tanpa disertai izin tertulis dari atasan. Sebagai masyarakat yang kurang melek hukum kita tidak habis pikir mengapa negara ini terlalu formal dalam segala aturan. Idealisme harus dijunjung tinggi namun toleransi juga harus diberi tempat yang proporsional. Sikap reaktif petinggi Polri yang dadakan sesaat setelah Susno menjadi saksi menimbulkan kecurigaan publik. Hal ini diperkuat dengan penyitaan fasilitas khusus Susno mulai dari ajudan, rumah dinas, mobil dinas, supir, dan pengawalnya. Pantaskah jika kesalahan Susno karena memakai seragam dan hadir kepersidangan tanpa izin tertulis atasannya dihukum dengan pencabutan fasilitas khusus sebagai petinggi bahkan terancam dicopot dari kesatuannya tidak dengan hormat. Apa yang dilakukan polri akan menjadi absurd jika mengacu pada asas praduga tak bersalah.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%">Konon upaya tersebut hanyalah salah satu trik agar Susno tidak banyak bernyanyi. Benar atau salah kehadiran Susno sebagai saksi yang dapat memperingan hukuman antasari dipicu akibat sentimen kepangkatan. Menurut cerita yang beredar beliau hampir saja diangkat menjadi wakapolri akan tetapi dikemudian hari justru kabareskrimlah yang kemudian diembannya. Terlebih setelah marak tuntutan mundur sebagai kabareskrim karena menangkap dua petinggi KPK atas dugaan penyalahgunaan wewenang.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%">Susnopun mundur. Lebih tepatnya dimundurkan oleh Kapolri. Menurut pengakuan beliau dimedia sebenarnya ketika Kapolri membacakan surat keputusan mundur dihadapan anggota DPR, ia sama sekali tidak diberitahu terlebih dahulu. Saat pembacaan SK tampak dilayar televisi Susno tertunduk dan berkali-kali menyeka air matanya. Kasihan, Susno sekarang bingung siapa yang sebenarnya pantas ia anggap sebagai kawan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%">Antasari dan Susno ditakdirkan tuhan lahir dan tumbuh didaerah yang sama, sumatera selatan. Kesaksiannya dalam persidangan antasari dan pernyataanya dihadapan <em>‘yang mulia’</em> dinilai banyak pihak yang berseberangan dengan beliau terkesan subyektif. Apalagi Susno sering mejeng dilayar dan bernyanyi sesuka hati sudah pasti membuat banyak orang dalam lingkaran Polri menjadi gerah. Tralala-Trilili Susno tidak sama seperti tralala-trilili dhea imut. Nyanyiannya bisa menimbulkan interseksi sesama petinggi, sangat membahayakan reputasi orang-orang berpangkat, bahkan kata-kata yang keluar dari mulutnya bisa membuat banyak pejabat masuk bui. Teramat banyak rahasia yang Susno ketahui tentu menjadi sengat mematikan. Benar kata pribahasa, sepanjang-panjang tali tidak sepanjang mulut manusia, rahasia yang sudah terbongkar pasti akan cepat menyebar.<span> </span><span> </span><span> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%"><strong>Pesan mulia</strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%">Orang tua kita sering menasehati anaknya jika jam sekolah selesai segeralah pulang. Jangan pergi keluyuran yang tidak ada gunanya atau mendatangi tempat ramai yang banyak dikerumuni manusia. Pengalaman membuktikan satu orang atau sekelompok kecil yang dituduh bersalah oleh sekelompok besar, maka yang datang belakangan cenderung ikut menjadi bagian dari kelompok besar, bahkan mungkin paling lantang untuk menyalahkan padahal dia tidak tahu apa-apa. Itulah yang tidak diinginkan oleh orang tua terhadap anaknya. Sederhana bukan? celakanya terhadap kasus Susno kita termasuk golongan orang yang datang belakangan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%">Kasus penangkapan Bibit Chandra membuat masyarakat Indonesia yang kadung cinta berat terhadap KPK teramat membenci Susno. Masyarakat kita lupa pesan orang tua karena mungkin setelah tidak bersekolah tidak pernah lagi mendengar nasehat mulia orang tuanya. Ketika Susno harus berdiri sendiri menghadapi tudingan banyak pihak, menjawab pertanyaan para wartawan atau memenuhi panggilan wakil rakyat, jarang sekali ada pembelaan untuk dirinya. Yang ada hanyalah stigma bahwa dia laki-laki yang arogan, ceroboh, dan sok jagoan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%"><strong>Jangan remehkan facebooker</strong>.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%">Masih hangat dalam ingatan ketika Bibit Chandra dibebaskan dari penjara. Jangan bilang itu karena kerja Adnan Buyung cs. Jejaring sosial facebook punya andil besar. facebooker ramai-ramai memberikan dukungannya melalui akun grup seperti 1.000.000 dukung Bibit Chandra, dukung cicak lawan buaya, dukung KPK.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%">Selain dua pentolan KPK, Prita Mulyasari adalah salah satu orang yang merasakan jasa facebooker. Ketika itu Prita Mulyasari digugat telah melakukan perbuatan pencemaran nama baik terhadap Rumah Sakit Omni Internasional Tangerang. Bagi kita Prita ibarat kurcaci yang harus bertempur melawan Buto Ijo, mustahil menang. Berurusan dengan meja hijau sama seperti duduk didepan meja judi. Harus siap menanggung kemungkinan terburuk yang akan menimpa. Semua tahu menyewa advokat tidaklah murah. Ini berarti Prita harus memecah celengan atau menghitung ulang asetnya. Jatuh bangun menghadapi Buto Ijo kurcaci hadapi dengan tabah. masuk LP, dibebaskanpun masih berstatus sebagai tahanan rumah. Prita berkali-kali harus hadir kepengadilan. Tidak seperti orang kaya dan berkuasa yang jika kepalanya pusing sedikit cukup mewakilkan pada pengacaranya agar hadir kepersidangan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%">Prita tidak putus asa, ia optimis mampu menghadapinya dengan tegar sebab ia memiliki tuhan yang akan menolongnya. Melalui do’a yang ia panjatkan setiap saat kapan dan dimanapun. Do’a prita didengar tuhan, bahkan facebookerpun mendengar do’anya. Lantas mereka ramai-ramai menggalang dukungan melalui grup dukung prita, dukung Prita Mulyasari, dukung bebas murnikan prita dari bui, Sukses.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%">Fenomena pemanfaatan facebook<span> </span>di Indonesia sebagai media menyampaikan bentuk solidaritas tampaknya akan terus berkembang. Susno yang kini sendirian tidak perlu ragu untuk menyuarakan kebenaran. Biarpun sohib-sohibnya berangsur menepi mencari payung berlindung, membuka mata dan telinga rakyat Indonesia akan mengkonversi kebencian terhadap dirinya menjadi cinta. Cinta hadir dukungan facebooker mengalir. Bukan tidak mungkin dukungan facebooker terhadap dirinya akan melampaui angka yang diperoleh Bibit dan Chandra.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%"><strong>Titik kulminasi <span> </span></strong></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%">Banyak orang mudah dikenali karena kata-katanya yang pepuler ditelinga orang. Mendengar kata-katanya memudahkan orang untuk mengingat sosoknya. Mendengar kata ‘begitu saja kok repot‘ maka afiliasi orang akan tertuju kepada Gus Dur. Mendengar kata ‘wong ndeso’ orang pasti ingat Tukul Arwana alias Riyanto. Begitu pula Susno Duadji, kata ‘cicak dan buaya’ yang terlontar dari mulutnya menjadikan dirinya populer ditengah masyarakat. Tidak main-main efeknya, sampai-sampai SBY merasa resah dengan kata tersebut.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%">Sekarang tidak ada lagi perseteruan cicak buaya. Yang ada adalah induk buaya uring-uringan melihat tingkah anaknya. Masa depan Susno tergantung dirinya sendiri. Ia seperti makan buah simalakama. Ia harus memilih, pertama- menuruti kemauan institusi padahal nyata-nyata sisa waktu menunggu pensiun tinggal dua tahun lagi. Kedua- berbicara lantang didepan publik dan memberikan pencerahan kepada masyarakat tetapi mengorbankan keselamatan diri dan keluarga. Susno adalah sang buaya sejati, baginya dicap sebagai buaya penghianat lebih terhormat daripada dianggap buaya banci. Ia pernah berujar saat diwawancarai oleh kru Tvone<span> </span>‘apa yang aku lakukan adalah untuk bangsa dan negaraku, aku katakan apa yang aku tahu, aku tidak mengada-ada’. Jika benar demikian, sepertinya pilihan kedua adalah pilihan terbaik bagi dia walaupun harus menanggung resiko yang tidak kecil. Benar-benar menguji hati nurani.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%">Cerita Susno belum usai. Interseksi sesama petinggi memang benar adanya, malah memicu terjadinya friksi ditubuh Polri. Pro kontra yang menghendaki perlu diteruskan atau dihentikan pengusutan terhadap beliaupun terus mengalir. Perlahan namun pasti dukungan facebookerpun mulai membanjir. Optimisme mulai nampak diwajahnya.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;line-height: 150%">Susno Duadji, apa yang akan anda katakan, kami siap dengarkan. Apa yang akan anda buktikan, kami siap saksikan. SBY pernah berkata, LANJUTKAN… Wallahu A’lam.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faza.blogmalhikdua.com/2010/01/17/menguji-hati-nurani-susno-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Ibrahim bin Ismail Azzurnuji, yang tergugat yang terlupakan</title>
		<link>http://faza.blogmalhikdua.com/2009/06/16/ibrahim-bin-ismail-azzurnuji-yang-tergugat-yang-terlupakan/</link>
		<comments>http://faza.blogmalhikdua.com/2009/06/16/ibrahim-bin-ismail-azzurnuji-yang-tergugat-yang-terlupakan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2009 07:27:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faza.blogmalhikdua.com/?p=86</guid>
		<description><![CDATA[Ibrahim bin Ismail Azzurnuji, yang tergugat yang terlupakan

Dzakain wa hirsin wastibarin wa bulghotin wa isryadi ustadzin wa tuli zamanin. Siapa tak hafal syair diatas.
Juli 2005, dalam rangka peninjauan “begitu gaya pejabat bertutur dalam kunjungannya”. Sewaktu pertama kali saya menginjakan kaki di bumi al Hikmah 2, dari lantai atas SMA Al Hikmah sayup-sayup terdengar sekelompok anak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><strong>Ibrahim bin Ismail Azzurnuji, yang tergugat yang terlupakan</strong></p>
<p class="MsoNormal">
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Dzakain wa hirsin wastibarin wa bulghotin wa isryadi ustadzin wa tuli zamanin. Siapa tak hafal syair diatas.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Juli 2005, dalam rangka peninjauan <em>“begitu gaya pejabat bertutur dalam kunjungannya”.</em> Sewaktu pertama kali saya menginjakan kaki di bumi al Hikmah 2, dari lantai atas SMA Al Hikmah sayup-sayup terdengar sekelompok anak santri dengan serempak melagukan beberapa bait nadhom Ta’limul Muta’allim karya syekh Ibrahim bin Ismail Azzurnuji. Belakangan syair inilah yang mengiringi keteguhan hati saya untuk menuntut ilmu dipesantren rintisan KH. Kholil bin Mahalli dan KH. Suhaimi.<span id="more-86"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Sayangnya hampir 4 tahun menetap di Al Hikmah 2, kini tidak ada lagi ustad yang membacakan karya beliau untuk para santri. Ta’lim Muta’allim yang konon telah lama mendominasi fan kitab adab kini mulai tergeser oleh kitab serupa seperti Adabu Ta’lim wal Muta’allim, Taisir al Khalak dan <span> </span>Akhlaku lilbanin walbanat. Akan tetapi dari ketiganya rupanya Adabu Ta’lim saja yang nampaknya masih memiliki tempat dihati para ustad dan santri,. Mungkin hal ini dikarenakan muatannya yang lebih berbobot dan ada kemiripan dengan pendahulunya yaitu kitab Ta’limnya Ibrahim bin Ismail, tapi itupun hanya dibacakan sekali dalam sepekan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Padahal dimata para ulama khususnya Indonesia, karya beliau sangat fenomenal dan mendunia. Dapat dipastikan sebagian besar Pesantren di Indonesia menjadikan kitab ini sebagai rujukan pola pembinaan mental santri. Mengamati teknik penulisannya, tidak ada sangsi disamping sebagai ulama besar beliau juga seorang sastrawan ulung yang piawai mengakomodasi nilai-nilai sastra tanpa meninggalkan esensi dari kitab tersebut yaitu pembinaan moral pelajar, seperti bait yang tersebut diatas.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Menyinggung soal teknik penulisan, pada mukadimahnya syekh Ibrahim memberikan deskripsi global yang sistematis agar memudahkan para pembacanya. Teknik yang sama juga terdapat dalam kitab Ihya ‘Ulumiddin karya al Ghozali. Perlu diingat, teknik ini jarang dipakai oleh para ulama dahulu kecuali kitab-kitab hadits seperti milik Imam Muhammad bin Ismail al Bukhari dan Imam Muslim bin Hajjaj an Naisaburi. Berlebihankah menyejajarkan ta’lim dengan kitab-kitab besar tersebut ? tidak sama sekali. Karena biarpun tergolong kitab mini, ta’lim muta’allim diakui telah memberikan sumbangan besar terhadap semangat belajar umat Islam.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Selain teknik penulisan, beberapa syair yang tertuang dalam kitab ini juga memberikan nilai lebih. Pertama- syair dalam ta’lim mudah dihafal dan mudah difahami walaupun untuk anak setingkat SLTP. Kedua- kandungannya memiliki nilai filosofi yang tinggi dan mudah diuraikan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Sebagaimana kitab syair pada umumnya, seorang guru yang membaca kitab Ta’lim bukan hanya mampu menguasai ilmu gramatikal arab saja tapi juga menguasai ilmu Arudh (ilmu yang mengupas teknik membaca syair arab). Terlebih jika ia memiliki suara yang merdu, maka ini bisa menjadi daya pikat menghipnotis para santri. Mereka akan terbuai dan terkagum-kagum oleh kepandaian sang guru yang mampu menggubah satu bait menjadi bermacam-macam lirik.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Terlepas dari fisik kitab yang tergolong mini, ada yang melontarkan statemen bahwa doktrinasi etika dalam kitab Ta’lim untuk para pelajar khususnya pesantren al Hikmah 2 ternyata sudah tidak ampuh. Sebagian isi kitab tidak relevan untuk remaja zaman sekarang. Di era keterbukaan ini muatan-muatan ta’lim khususnya menyangkut adab murid terhadap guru yang bersifat feodalis terlalu berat diterapkan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Jika sudah tidak relevan, nyata-nyata para pendidik dipesantren al Hikmah 2 kini sering mengeluhkan telah terjadi perubahan yang cukup mencolok terkait dengan prilaku santri, baik dalam hal belajar maupun beretika. Khusus untuk tahun ini, menurut laporan dari pengurus komplek putra-putri al Hikmah 2, bahwa angka pelanggaran santri meningkat cukup tajam. Walau demikian rasanya tidaklah bijaksana jika dua hal diatas dijadikan alat untuk menjustifikasikan statemen tersebut. Sebab bisa jadi dekadensi moral santri terjadi oleh proses pencarian jati dirinya sebagai remaja sedang terhambat.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify">Dalam konteks ini, kita tidak perlu berpusing-pusing mengkambing hitamkan era keterbukaan sebagai penyebab kemerosotan moral. Karena sejatinya muatan-muatan yang berbau feodalis dalam Ta’lim pun dapat disiasati menjadi sesuatu yang diterima oleh mereka. Seandainya para pendidik dilingkungan al Hikmah 2 merumuskan paradigma baru “tanpa berpaling dari Ta’lim Muta’allim”, yaitu <em>pendidikan yang berorientasi pada bimbingan keagamaan dan pendekatan psikologi perkembangan para santri yang serasi dengan karakteristiknya,</em> sedikit banyak hal ini dapat membantu mengembalikan mereka kedalam jalur yang sesungguhnya. Sebab biarpun secara fisik mereka berpenampilan layaknya orang dewasa, namun secara psikologis belum. Oleh karena itu, <span> </span>informasi ajaran yang mereka terima seyogianya bukan hanya sebatas bersifat normatif dan hitam-putih.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span><span> </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faza.blogmalhikdua.com/2009/06/16/ibrahim-bin-ismail-azzurnuji-yang-tergugat-yang-terlupakan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>6</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>PLAGIARISME</title>
		<link>http://faza.blogmalhikdua.com/2009/06/11/plagiarisme/</link>
		<comments>http://faza.blogmalhikdua.com/2009/06/11/plagiarisme/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 11 Jun 2009 11:29:42 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faza</dc:creator>
				<category><![CDATA[Tak berkategori]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faza.blogmalhikdua.com/2009/06/11/plagiarisme/</guid>
		<description><![CDATA[PLAGIARISME
¬¬¬¬
Pekan lalu tanggal 4 Juni saya menyempatkan diri mencari literatur diinternet sebagai bahan pendukung tugas membuat karya ilmiah. Naah! ga dinyana saya menemukan satu postingan yang kebetulan cocok untuk bahan tulisan. Dalam hati, saya berbunga-bunga,  mirip serdadu amerika yang mendapatkan air setelah dua hari menyusuri terjalnya gurun Afganistan. Tapi membaca komentar postingan itu saya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>PLAGIARISME<br />
¬¬¬¬<br />
Pekan lalu tanggal 4 Juni saya menyempatkan diri mencari literatur diinternet sebagai bahan pendukung tugas membuat karya ilmiah. Naah! ga dinyana saya menemukan satu postingan yang kebetulan cocok untuk bahan tulisan. Dalam hati, saya berbunga-bunga,  mirip serdadu amerika yang mendapatkan air setelah dua hari menyusuri terjalnya gurun Afganistan. Tapi membaca komentar postingan itu saya dibuat terkejut karena sang komentator menguraikan kalimatnya dengan bahasa emosi yang meluap-luap (seperti luapan air situ gintung kali ya).<br />
Jujur inilah kali pertama saya membaca komentar diblog yang panjangnya hampir sama dengan belalai gurita raksasa.  kata-kata saya mungkin sangat berlebihan, tapi inilah yang saya rasakan. Sungguh tak wajar seorang pembaca ikut terteror kata-kata yang ditunjukkan buat sipenulis, yah walaupun hal semacam ini terkadang kita alami dalam kehidupan nyata. Saya tak sedang berapologi dengan apa yang saya alami waktu itu dan anda punya hak melakukan negasi atas pendapat ini. Tapi saya tak pernah menyesal, karena komentar itulah yang membuat saya bisa berbagi cerita pada kalian.<br />
Lalu apa inti komentarnya? Sedikit banyak masih ingat ” Bapak X yang saya hormati, postingan anda benar-benar sangat menarik, menarik sekali. Sangat jarang  para ekonom kita yang mampu mengupas rumitnya efek krisis global yang menimpa sebagian besar negara didunia saat ini. Anda  tidak hanya menjelaskan dampak buruk krisis yang akan menghambat laju perekonomian dunia, saham-saham yang berguguran, karyawan-karyawan yang dirumahkan atau radiasi krisis global yang menyebabkan angka kriminalitas disuatu negara khususnya Indonesia ini terus meningkat. Lebih dari itu anda mengungkap sisi-sisi sempit yang sering terlupakan oleh kebanyakan para pakar, “bahwa disaat negara ini makin terpuruk, kita lebih banyak berkata dari pada berbuat, kita lebih banyak menggerutu dari pada berkreasi. Kita lebih suka meniru dan bukan mencipta. Apakah karena negara kita menganut sistem demokrasi sehingga rakyatnya pandai berbicara, membual tak karuan hingga mulutnya berbusa-busa, pandai menggerutu, pandai meniru dan yang pasti solusi anda tentu dibutuhkan oleh banyak orang .<br />
Bapak X, pada halaman perkenalan saya membaca bahwa anda adalah seorang Magister lulusan perguruan tinggi terkemuka dinegeri ini. Mencermati kurikulum vitae dan halaman perkenalan diblog anda, saya yakin bahwa anda hidup dilingkungan keluarga yang religius. Saya yakin sejak kecil anda telah dilatih menjadi pria yang taat beragama. Orang semacam anda akan menjadi pembeda perjalanan bangsa yang sedang ling-lung ini. Sungguh sangat mengesankan.<br />
Tapi, ada beberapa hal yang ingin saya tanyakan pada anda. Pertama- Apakah postingan diatas benar-benar karya anda?. Setahu saya artikel diatas ada dalam sebuah buku karya Bapak XX dan telah diterbitkan 4 bulan yang lalu oleh penerbit R. Kedua- Mengapa pada bagian akhir artikel, anda tidak menyebutkan sumbernya? Ketiga- Mengapa pada bagian bawah judul, anda tuliskan nama sendiri padahal sudah jelas jika itu bukan karya anda. Dan apakah sebelumnya anda telah meminta izin pada penulisnya ? Mohon dijawab! Kurang lebih komentarnya demikian. Intinya komentator tidak setuju dengan gaya postingan bapak X yang mengesankan pada pembaca seolah-olah dialah penulis sesungguhnya.<br />
Hemat saya, Siapapun orangnya entah berprofesi sebagai  penulis, novelis, cerpenis atau is is lainnya, pasti ingin agar karyanya dihargai secara layak. Saya tidak perlu memberitahu bagaimana cara menghargai karya orang lain. Saya hanya ingin menegaskan, bahwa sekali kita merasa nyaman bersembunyi dibalik bayang orang lain, maka sejatinya saat itu kehidupan kita telah terhenti. Apa yang kita harapkan dari bayangan! Kita hanya akan menjadi subyek yang diikat oleh ruang.<br />
Disini saya merasa diingatkan oleh sebuah istilah yang sangat familier sekali bagi orang-orang yang tersebut diatas. Pastinya istilah itu adalah “PLAGIARISME”. Heemm anda mungkin penasaran, kira-kira siapa sih orang yang berani kasih komentar semacam itu?. Sedikit bocoran, dia adalah salah satu staf penerbit buku terkemuka di Indonesia yang menerbitkan karya milik bapak XX.<br />
Sampai pada akhir komentar saya merenung agak lama. Harapannya tentu agar mendapatkan intuisi dari perenungan yang saya lakukan. Tapi karena jarang melatih diri untuk berkontemplasi, semakin lama saya merenung, pikiran dan hati ini justru semakin tak padu. Dalam hati, plagiat sebuah kejahatan bagaimanapun bentuk dan caranya. Pikir saya menghendaki plagiat tidaklah mutlak sebuah kejahatan. Kalau begitu bagaimana dengan anda, manakah yang benar ? </p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faza.blogmalhikdua.com/2009/06/11/plagiarisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>5</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Cinta Tanpa Syarat</title>
		<link>http://faza.blogmalhikdua.com/2008/12/05/cinta-tanpa-syarat/</link>
		<comments>http://faza.blogmalhikdua.com/2008/12/05/cinta-tanpa-syarat/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 13:52:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faza</dc:creator>
				<category><![CDATA[story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faza.blogmalhikdua.com/?p=67</guid>
		<description><![CDATA[Dikisahkan, ada sebuah keluarga besar. Kakek dan nenek mereka merupakan pasangan suami istri yang tampak serasi dan selalu harmonis satu sama lain. Suatu hari, saat berkumpul bersama, si cucu bertanya kepada mereka berdua, &#8220;Kakek, Nenek, tolong beritahu kepada kami resep akur dan cara Kakek dan Nenek mempertahan cinta selama ini agar kami yang muda-muda bisa [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Dikisahkan, ada sebuah keluarga besar. Kakek dan nenek mereka merupakan pasangan suami istri yang tampak serasi dan selalu harmonis satu sama lain. Suatu hari, saat berkumpul bersama, si cucu bertanya kepada mereka berdua, &#8220;Kakek, Nenek, tolong beritahu kepada kami resep akur dan cara Kakek dan Nenek mempertahan cinta selama ini agar kami yang muda-muda bisa belajar.&#8221;</span><span id="more-67"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Mendengar pertanyaan itu, sesaat kakek dan nenek beradu pandang sambil saling melempar senyum. Dari tatapan keduanya, terpancar rasa kasih yang mendalam di antara mereka. &#8220;Aha, Nenek yang akan bercerita dan menjawab pertanyaan kalian,&#8221; kata kakek. Sambil menerawang ke masa lalu, nenek pun memulai kisahnya. &#8220;Ini pengalaman kakek dan nenek yang tak mungkin terlupakan dan rasanya perlu kalian dengar dengan baik. Suatu hari, kami berdua terlibat obrolan tentang sebuah artikel di majalah yang berjudul â€˜bagaimana memperkuat tali pernikahan&#8217;. Di sana dituliskan, masing-masing dari kita diminta mencatat hal-hal yang kurang disukai dari pasangan kita. Kemudian, dibahas cara untuk mengubahnya agar ikatan tali pernikahan bisa lebih kuat dan bahagia. Nah, malam itu, kami sepakat berpisah kamar dan mencatat apa saja yang tidak disukai. Esoknya, selesai sarapan, nenek memulai lebih dulu membacakan daftar dosa kakekmu sepanjang kurang lebih tiga halaman. Kalau dipikir-pikir, ternyata banyak juga, dan herannya lagi, sebegitu banyak yang tidak disukai, tetapi tetap saja kakek kalian menjadi suami tercinta nenekmu ini,&#8221; kata nenek sambil tertawa. Mata tuanya tampak berkaca-kaca mengenang kembali saat itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Lalu nenek melanjutkan, &#8220;Nenek membacanya hingga selesai dan kelelahan. Dan, sekarang giliran kakekmu yang melanjutakan bercerita.&#8221; Dengan suara perlahan, si kakek meneruskan. &#8220;Pagi itu, kakek membawa kertas juga, tetapi&#8230;. kosong. kakek tidak mencatat sesuatu pun di kertas itu. Kakek merasa nenekmu adalah wanita yang kakek cintai apa adanya, kakek tidak ingin mengubahnya sedikit pun. Nenekmu cantik, baik hati, dan mau menikahi kakekmu ini, itu sudah lebih dari cukup bagi kakek.&#8221; Nenek segera menimpali, &#8220;Nenek sungguh sangat tersentuh oleh pernyataan kakekmu itu sehingga sejak saat itu, tidak ada masalah atau sesuatu apa pun yang cukup besar yang dapat menyebabkan kami bertengkar dan mengurangi perasaan cinta kami berdua&#8221;. </span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Sering kali dikehidupan ini, kita lebih banyak menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan sisi yang buruk, mengecewakan, dan yang menyakitkan. Padahal, pada saat yang sama kita pun sebenarnya punya kemampuan untuk bisa menemukan banyak hal indah disekeliling kita. Saya yakin dan percaya, kita akan menjadi manusia yang berbahagia jika kita mampu berbuat, melihat, dan bersyukur atas hal-hal baik di kehidupan ini dan senantiasa mencoba untuk melupakan yang buruk yang pernah terjadi. Dengan demikian, hidup akan dipenuhi dengan keindahan, pengharapan, dan kedamaian.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faza.blogmalhikdua.com/2008/12/05/cinta-tanpa-syarat/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>7</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Semakin Banyak Memberi Semakin Banyak Menerima</title>
		<link>http://faza.blogmalhikdua.com/2008/12/05/semakin-banyak-memberi-semakin-banyak-menerima/</link>
		<comments>http://faza.blogmalhikdua.com/2008/12/05/semakin-banyak-memberi-semakin-banyak-menerima/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 13:50:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faza</dc:creator>
				<category><![CDATA[story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faza.blogmalhikdua.com/?p=64</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Namaku Linda. Aku memiliki sebuah kisah cinta yang memberiku sebuah pelajaran tentangnya. Ini bukanlah sebuah kisah cinta hebat dan mengagumkan penuh gairah seperti dalam novel-novel roman, walau begitu menurutku ini adalah kisah yang jauh lebih mengagumkan dari itu semua. Ini adalah kisah cinta ayahku, Mohammed Huda alhabsyi dan ibuku, Yasmine Ghauri.
Mereka bertemu disebuah acara resepsi [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">&#8220;Namaku Linda. Aku memiliki sebuah kisah cinta yang memberiku sebuah pelajaran tentangnya. Ini bukanlah sebuah kisah cinta hebat dan mengagumkan penuh gairah seperti dalam novel-novel roman, walau begitu menurutku ini adalah kisah yang jauh lebih mengagumkan dari itu semua. Ini adalah kisah cinta ayahku, Mohammed Huda alhabsyi dan ibuku, Yasmine Ghauri.</span><span id="more-64"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Mereka bertemu disebuah acara resepsi pernikahan dan kata ayahku ia jatuh cinta pada pandangan pertama ketika ibuku masuk ke dalam ruangan. Saat itu ayah tahu, bahwa inilah perempuan yang akan menikah dengannya. Hal ini menjadi kenyataan, kini mereka telah menikah selama 40 tahun dan telah memiliki tiga orang anak, aku anak tertua, telah menikah dan memberikan mereka dua orang cucu. Mereka bahagia dan selama bertahun-tahun telah menjadi orang tua yang sangat baik bagi kami, mereka membimbing kami, anak-anaknya dengan penuh cinta kasih dan kebijaksanaan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Aku teringat suatu hari ketika aku masih berusia belasan tahun. Saat itu beberapa ibu-ibu tetangga kami mengajak ibuku pergi kepembukaan pasar murah yang mengobral alat-alat kebutuhan rumah tangga. Mereka mengatakan saat pembukaan adalah saat terbaik untuk berbelanja barang obral karena saat itu saat termurah dengan kualitas barang-barang terbaik. Tapi ibuku menolaknya karena ayahku sebentar lagi pulang dari kantor. Kata ibuku,&#8221;Mama tak akan pernah meninggalkan papa sendirian&#8221;. Hal itu yang selalu dicamkan oleh ibuku kepadaku. Apapun yang terjadi, sebagai seorang perempuan aku harus patuh pada suamiku dan selalu menemaninya dalam keadaan apapun, baik miskin, kaya, sehat maupun sakit. Seorang perempuan harus bisa menjadi teman hidup suaminya. Banyak orang tertawa mendengar hal itu menurut mereka, itu hanya janji pernikahan, omong kosong belaka. Tapi aku tak pernah memperdulikan mereka, aku percaya nasihat ibuku. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Sampai suatu hari, bertahun-tahun kemudian, kami mengalami duka, setelah ulang tahun ibuku yang ke-59, ibuku terjatuh di kamar mandi dan menjadi lumpuh. Dokter mengatakan kalau saraf tulang belakang ibuku tidak berfungsi lagi sehingga ia harus menghabiskan sisa hidupnya ditempat tidur. Ayahku, seorang pria yang masih sehat diusianya yang lebih tua, tapi ia tetap merawat ibuku, menyuapinya, bercerita banyak hal padanya, mengatakan padanya kalau ia mencintainya. Ayahku tak pernah meninggalkannya, selama bertahun-tahun, hampir setiap hari ayahku selalu menemaninya, ia masih suka bercanda-canda dengan ibuku. Ayahku pernah mencatkan kuku tangan ibuku, dan ketika ibuku bertanya ,&#8221;untuk apa kau lakukan itu? Aku sudah sangat tua dan jelek sekali&#8221;. Ayahku menjawab, &#8220;aku ingin kau tetap merasa cantik&#8221;. Begitulah pekerjaan ayahku sehari<span dir="rtl"> </span>hari, ia merawat ibuku dengan penuh kelembutan dan kasih sayang. Para kenalan yang mengenalnya sangat hormat dengannya. Mereka sangat kagum dengan kasih sayang ayahku pada ibuku yang tak pernah pudar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Suatu hari ibu berkata padaku sambil tersenyum, &#8220;Kau tahu, Linda. Ayahmu tak akan pernah meninggalkan aku&#8230; kau tahu kenapa?&#8221; Aku menggeleng dan ibuku melanjutkan, &#8220;karena aku tak pernah meninggalkannya&#8230;&#8221; Itulah kisah cinta ayah dan ibuku. Mereka memberikan kami, anak-anaknya pelajaran tentang tanggung jawab, kesetiaan, rasa hormat, saling menghargai, kebersamaan, dan cinta kasih. Bukan dengan kata-kata, tapi mereka memberikan contoh dari kehidupannya.</span><span style="font-size: 11pt;font-family: Arial;color: black"></span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faza.blogmalhikdua.com/2008/12/05/semakin-banyak-memberi-semakin-banyak-menerima/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pilih Mana : Kekayaan, Kesuksesan Atau Cinta</title>
		<link>http://faza.blogmalhikdua.com/2008/12/05/pilih-mana-kekayaan-kesuksesan-atau-cinta/</link>
		<comments>http://faza.blogmalhikdua.com/2008/12/05/pilih-mana-kekayaan-kesuksesan-atau-cinta/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 13:48:04 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faza</dc:creator>
				<category><![CDATA[oase]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faza.blogmalhikdua.com/?p=60</guid>
		<description><![CDATA[Suatu ketika, ada seorang perempuan yang kembali pulang ke rumah,dan ia melihat ada 3 orang laki-laki berjanggut yang duduk di halaman depan. Perempuan itu tidak mengenal mereka semua. Perempuan itu berkata: &#8220;Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk menganjal perut. Laki-laki [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Suatu ketika, ada seorang perempuan yang kembali pulang ke rumah,dan ia melihat ada 3 orang laki-laki berjanggut yang duduk di halaman depan. Perempuan itu tidak mengenal mereka semua. Perempuan itu berkata: &#8220;Aku tidak mengenal Anda, tapi aku yakin Anda semua pasti sedang lapar. Mari masuk ke dalam, aku pasti punya sesuatu untuk menganjal perut. Laki-laki berjanggut itu lalu balik bertanya, &#8220;Apakah suamimu sudah pulang? Perempuan itu menjawab, &#8220;Belum, dia sedang keluar. &#8220;Oh kalau begitu, kami tak ingin masuk. Kami akan menunggu sampai suamimu kembali, kata laki-laki itu.</span><span id="more-60"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Diwaktu senja, saat keluarga itu berkumpul, sang isteri menceritakan semua kejadian tadi. Sang suami, awalnya bingung dengan kejadian ini, lalu ia berkata pada istrinya, &#8220;Sampaikan pada mereka, aku telah kembali, dan mereka semua boleh masuk untuk menikmati makan malam ini. Perempuan itu kemudian keluar dan mengundang mereka untuk masuk ke dalam. &#8220;Maaf, kami semua tak bisa masuk bersama-sama&#8221; , kata laki-laki itu hampir bersamaan.&#8221;Lho, kenapa? tanya perempuan itu karena merasa heran. Salah seorang laki-laki itu berkata, &#8220;Nama dia Kekayaan,&#8221;katanya sambil menunjuk seorang laki-laki berjanggut di sebelahnya, dan &#8220;sedangkan yang ini bernama Kesuksesan, sambil memegang bahu laki-laki berjanggut lainnya. Sedangkan aku sendiri bernama Cinta. Sekarang, coba tanya kepada suamimu, siapa diantara kami yang boleh masuk ke rumahmu. Perempuan itu kembali masuk kedalam, dan memberitahu pesan laki-laki di luar. Suaminya pun merasa heran. &#8220;Oh&#8230;menyenangkan sekali. Baiklah, kalau begitu, coba kamu ajak si Kekayaan masuk kedalam. Aku ingin rumah ini penuh dengan Kekayaan. Istrinya tak setuju dengan pilihan itu. Ia bertanya, &#8220;sayangku, kenapa kita tak mengundang si Kesuksesan saja? Sebab sepertinya kita perlu dia untuk membantu keberhasilan panen gandum kita. &#8220;Ternyata, anak mereka mendengarkan percakapan itu. Ia pun ikut mengusulkan siapa yang akan masuk ke dalam rumah. &#8220;Bukankah lebih baik jika kita mengajak si Cinta yang masuk ke dalam? Rumah kita ini akan nyaman dan penuh dengan kehangatan Cinta. Suami-istri itu setuju dengan pilihan buah hati mereka. &#8220;Baiklah, ajak masuk si Cinta ini ke dalam. Dan malam ini, Si Cinta menjadi teman santap malam kita. </span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Perempuan itu kembali ke luar, dan bertanya kepada 3 laki-laki itu. &#8220;Siapa diantara Anda yang bernama Cinta? Ayo, silahkan masuk, Anda menjadi tamu kita malam ini. Si Cinta bangkit, dan berjalan menuju beranda rumah. Oh..ternyata, kedua laki-laki berjanggut lainnya pun ikut serta. Karena merasa ganjil, perempuan itu bertanya kepada si Kekayaan dan si Kesuksesan. &#8220;Aku hanya mengundang si Cinta yang masuk ke dalam, tapi kenapa kamu ikut juga? Kedua laki-laki yang ditanya itu menjawab bersamaan. &#8220;Kalau Anda mengundang si Kekayaan, atau si Kesuksesan, maka yang lainnya akan tinggal diluar. Namun, karena Anda mengundang si Cinta, maka, kemana pun Cinta pergi, kami akan ikut selalu bersamanya. Dimana ada Cinta, maka Kekayaan dan Kesuksesan juga akan ikut serta. Sebab, ketahuilah, sebenarnya kami buta. Dan hanya si Cinta yang bisa melihat. Hanya dia yang bisa menunjukkan kita pada jalan kebaikan, kepada jalan yang lurus. Maka, kami butuh bimbingannya saat berjalan. Saat kami menjalani hidup ini.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faza.blogmalhikdua.com/2008/12/05/pilih-mana-kekayaan-kesuksesan-atau-cinta/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pasangan Dari Tuhan</title>
		<link>http://faza.blogmalhikdua.com/2008/12/05/pasangan-dari-tuhan/</link>
		<comments>http://faza.blogmalhikdua.com/2008/12/05/pasangan-dari-tuhan/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 13:44:45 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faza</dc:creator>
				<category><![CDATA[story]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faza.blogmalhikdua.com/?p=57</guid>
		<description><![CDATA[Bertahun-tahun yang lalu, Aku berdoa kepada Tuhan untuk memberikan pasangan hidup, &#8220;Engkau tidak memiliki pasangan karena engkau tidak memintanya&#8221;, Tuhan menjawab. Tidak hanya Aku meminta kepada Tuhan, Aku menjelaskan kriteria pasangan yang kuinginkan. Aku menginginkan pasangan yang baik hati, lembut, mudah mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh pengertian, pintar, humoris, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Bertahun-tahun yang lalu, Aku berdoa kepada Tuhan untuk memberikan pasangan hidup, &#8220;Engkau tidak memiliki pasangan karena engkau tidak memintanya&#8221;, Tuhan menjawab. Tidak hanya Aku meminta kepada Tuhan, Aku menjelaskan kriteria pasangan yang kuinginkan. Aku menginginkan pasangan yang baik hati, lembut, mudah mengampuni, hangat, jujur, penuh dengan damai dan sukacita, murah hati, penuh pengertian, pintar, humoris, penuh perhatian. Aku bahkan memberikan kriteria pasangan tersebut secara fisik yang selama ini kuimpikan. Sejalan dengan berlalunya waktu, Aku menambahkan daftar kriteria yang kuinginkan dalam pasanganku.</span><span id="more-57"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Suatu malam, dalam doa, Tuhan berkata dalam hatiku,&#8221; Hamba-Ku, Aku tidak dapat memberikan apa yang engkau inginkan. &#8221; Aku bertanya, &#8220;Mengapa Tuhan?&#8221; dan Ia menjawab, &#8221; Karena Aku adalah Tuhan dan Aku adalah Adil. Aku adalah Kebenaran dan segala yang Aku lakukan adalah benar.&#8221; &#8221; Aku bertanya lagi, &#8220;Tuhan, aku tidak mengerti mengapa aku tidak dapat memperoleh apa yang aku pinta dari-Mu?&#8221; &#8221; Jawab Tuhan, &#8220;Aku akan menjelaskannya kepada-Mu, Adalah suatu ketidak adilan dan ketidakbenaran bagi-Ku untuk memenuhi keinginanmu karena Aku tidak dapat memberikan sesuatu yang bukan seperti engkau. Tidaklah adil bagi-Ku untuk memberikan seseorang yang penuh dengan cinta dan kasih kepadamu jika terkadang engkau masih kasar, atau memberikan seseorang yang pemurah tetapi engkau masih kejam, atau seseorang yang mudah mengampuni tetapi engkau sendiri masih suka menyimpan dendam, seseorang yang sensitif, namun engkau sendiri tidak&#8230;&#8221; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Kemudian Ia berkata kepadaku, &#8220;Adalah lebih baik jika Aku memberikan kepadamu seseorang yang Aku tahu dapat menumbuhkan segala kualitas yang engkau cari selama ini daripada membuat engkau membuang waktu mencari seseorang yang sudah mempunyai semuanya itu. Pasanganmu akan berasal dari tulangmu dan dagingmu, dan engkau akan melihat dirimu sendiri di dalam dirinya dan kalian berdua akan menjadi satu. Pernikahan adalah seperti sekolah &#8211; suatu pendidikan jangka panjang. Pernikahan adalah tempat dimana engkau dan pasanganmu akan saling menyesuaikan diri dan tidak hanya bertujuan untuk menyenangkan hati satu sama lain, tetapi untuk menjadikan kalian manusia yang lebih baik, dan membuat suatu kerjasama yang solid. Aku tidak memberikan pasangan yang sempurna karena engkau tidak sempurna. Aku memberikanmu seseorang yang dapat tumbuh bersamamu.&#8221; </span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Kisah ini untuk yang sudah menikah, yang baru saja menikah, yang sedang mencari&#8230;</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faza.blogmalhikdua.com/2008/12/05/pasangan-dari-tuhan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mulailah Dari Diri Sendiri</title>
		<link>http://faza.blogmalhikdua.com/2008/12/05/mulailah-dari-diri-sendiri/</link>
		<comments>http://faza.blogmalhikdua.com/2008/12/05/mulailah-dari-diri-sendiri/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 13:42:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faza</dc:creator>
				<category><![CDATA[oase]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faza.blogmalhikdua.com/?p=55</guid>
		<description><![CDATA[&#8220;Berusahalah untuk selalu menjadi pihak pertama yang menunjukkan cinta dan perhatian Anda kepada orang lain. Jangan menuntut perhatian dan cinta mereka untuk diperlihatkan lebih dahulu. Itulah satu-satunya cara yang saya ketahui untuk ke luar dari kegelapan hidup,&#8221; demikian dikatakan Ny.Eunice Chew (52 tahun), salah satu finalis pemilihan ibu teladan se-Singapura tahun lalu. Diadopsi oleh pasangan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">&#8220;Berusahalah untuk selalu menjadi pihak pertama yang menunjukkan cinta dan perhatian Anda kepada orang lain. Jangan menuntut perhatian dan cinta mereka untuk diperlihatkan lebih dahulu. Itulah satu-satunya cara yang saya ketahui untuk ke luar dari kegelapan hidup,&#8221; demikian dikatakan Ny.Eunice Chew (52 tahun), salah satu finalis pemilihan ibu teladan se-Singapura tahun lalu. Diadopsi oleh pasangan Teochew yang kaya-raya dan sudah memiliki seorang putra tapi masih ingin punya anak perempuan, maka masa kanak-kanak Chew dipenuhi kemewahan. Liburan keluarga sering dilewatkan diluar negeri. Pasangan Teochew menyayangi putrinya dengan cara mereka.</span><span id="more-55"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Menurut cerita Chew, mereka adalah produk pendidikan kuno yang tidak mengenal pelukan kepada anak-anak untuk meyakinkan mereka dari waktu kewaktu bahwa orangtua menyayangi anak-anak. Akibatnya, Chew tumbuh menjadi wanita yang haus kasih sayang. Ia menikah pada usia 17 tahun dengan seorang pegawai transportasi yang bangkrut. Dari pria itu diharapkannya akan datang kasih sayang yang dicarinya. Ternyata ia menikah dengan pria yang suka menyiksa istri. Perkawinan itu bertahan lima tahun, dikaruniai dua anak. Tak lama setelah bercerai, ayah angkat Chew wafat karena sakit. Pembagian warisan menimbulkan pertikaian didalam keluarga besar Teochew. Akhirnya Chew ternyata tidak kebagian apa-apa selain kewajiban mengurusi ibu angkatnya yang sudah buta dan lumpuh. Chew menjual susu coklat Milo untuk menyambung hidupnya &#8220;Ini pengalaman pertama saya harus bekerja mencari uang. Setiap malam saya menangis karena tidak mengerti berbisnis. Apa yang harus dikatakan dan bagaimana mengatakannya? ,&#8221; kata Chew dalam wawancara kepada harian Singapura The Straits Times. Ia bertahan dua tahun di pekerjaan itu. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">&#8220;Bagaimanapun susahnya saya mendapatkan uang, saya selalu memastikan bahwa ibu mendapat ayam goreng dan ikan setiap hari. Dia memang buta dan lumpuh, tetapi dia membantu saya mengurus anak-anak sehingga saya bisa bekerja mencari uang,&#8221; katanya. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Ia kemudian ganti pekerjaan, menjadi koki sebuah toko makanan. Sekitar dua tahun kemudian ganti lagi menjadi penjual pakaian. Setiap hari ia membopong empat kantong penuh berisi baju untuk dijual. Tentu saja dengan menumpang kendaraan umum. Pada waktu bersamaan, ia menambah pekerjaannya dengan dua hal lain, yaitu menjadi makelar rumah dan mobil bekas, serta memanfaatkan bakatnya di bidang seni. Setiap malam Chew mendesain beberapa pola kain untuk sebuah perusahaan garmen di Jepang. Lumayan pendapatannya. Tapi akhir 1970-an, pasar retail tekstil melemah, Chew beralih menjadi pelayan restoran. Beberapa lama kemudian meningkat jadi pimpinan pelayan dan kemudian menjadi manajer untuk bidang seni. &#8220;Ketika itu saya mulai sering terbang ke luar negeri untuk bernegosiasi dengan artis-artis terkenal agar mereka tampil direstoran saya. Sementara itu, saya tetap meneruskan pekerjaan sambilan yang dulu, yaitu menjual rumah dan mobil, baik yang baru maupun bekas pakai.&#8221; </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Chew kemudian berhasil mengumpulkan uang cukup banyak untuk mendirikan bisnis sendiri dibidang perlengkapan mode, tetapi dua asistennya kemudian membawa pergi semua tabungannya. &#8220;Ketika itu saya sedang sangat membutuhkan uang karena ibu berkali-kali masuk-ke luar rumah sakit. Hidup saya yang tadinya sudah enak, harus mulai dibangun lagi dari nol. Betapa bodohnya saya mempercayai mereka dengan uang sedemikian banyak,&#8221; kata Chew. Sempat terlintas pikiran untuk bunuh diri, tetapi bagaimana nasib anak-anak kelak? &#8220;Saya bersyukur memiliki temanteman yang memberi dukungan moral dan bahkan meminjamkan uang. Atas bantuan mereka, saya berhasil melewati kesulitan.&#8221; Chew sekarang memiliki penghasilan besar dari merawat orang-orang Indonesia yang berduit, yang sedang dirawat di Singapura karena baru melahirkan atau sedang terbaring di rumah sakit. Ia juga menjalankan bisnis yang amat menguntungkan juga, yaitu membuat dan menjual tonik tradisional Tiongkok. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Chew menambah kegiatannya dengan menjadi konsultan tanpa bayaran bagi kaum istri yang menderita karena suaminya tidak setia, dan bagi orang- orang yang lama menderita sakit, atau berpenyakit tak tersembuhkan. &#8220;Hidup telah mengajarkan saya bahwa selalu ada jalan keluar dari setiap kesulitan. Pasti ada solusi yang masuk akal,&#8221; kata Chew. &#8220;Yang Anda butuhkan adalah waktu untuk menenangkan diri, mengatasi gejolak emosi, dan melangkah setapak demi setapak.&#8221; Ia menyarankan kepada mereka yang menghadapi kesulitan, agar menulis daftar kesulitan itu pada sehelai kertas. Kemudian bacalah apa yang ditulis itu, dan tanyakan pada diri sendiri, &#8216;Apa hal terkecil yang dapat saya lakukan hari ini untuk mengatasi kesulitan itu?&#8217; &#8220;Gelindingkan batu-batu karang yang kecil dari hidup Anda, sampai akhirnya Anda punya kekuatan untuk mendorong batu karang yang besar. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Saya melihat orang-orang yang sakit berusaha keras untuk bisa hidup. Dunia ini berubah terus sepanjang waktu. Anda tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Maka jangan sakiti hati siapapun. Selalu pertimbangkan perasaan orang lain terlebih dahulu, bukan perasaan Anda sendiri. Kita memang cenderung untuk melihat sisi buruk orang lain, walaupun karakter mereka mungkin 99 persennya baik, hanya satu persen yang buruk. Mengapa tidak bersabar dengan memberikan mereka waktu untuk menunjukkan yang 99 persen itu? </span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Di pagi hari, Anda dapat membuatkan minuman panas untuk keluarga Anda, dan duduk menemani mereka beberapa menit, kemudian memeluk dan menciumi mereka sebelum semuanya pergi ke tempat kerja atau ke sekolah. Sekitar 10 menit sebelum tidur malam setiap hari, berkumpullah bersama keluarga untuk berbagi cerita mengenai peristiwa sepanjang hari tadi,&#8221; demikian Ny.Chew.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faza.blogmalhikdua.com/2008/12/05/mulailah-dari-diri-sendiri/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mencintai Yang Tidak Sempurna</title>
		<link>http://faza.blogmalhikdua.com/2008/12/05/mencintai-yang-tidak-sempurna/</link>
		<comments>http://faza.blogmalhikdua.com/2008/12/05/mencintai-yang-tidak-sempurna/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 13:38:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faza</dc:creator>
				<category><![CDATA[oase]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faza.blogmalhikdua.com/?p=52</guid>
		<description><![CDATA[Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat, itulah kesempatan. Ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik, itu bukan pilihan, itupun kesempatan. Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan, itupun adalah kesempatan. Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut, Bahkan dengan segala kekurangannya, itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan. Ketika kita memilih bersama dengan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: Arial;color: black">Ketika kita berada di tempat pada saat yang tepat, itulah kesempatan. Ketika kita bertemu dengan seseorang yang membuatmu tertarik, itu bukan pilihan, itupun kesempatan. Bertemu dalam suatu peristiwa bukanlah pilihan, itupun adalah kesempatan. Bila kita memutuskan untuk mencintai orang tersebut, Bahkan dengan segala kekurangannya, itu bukan kesempatan, itu adalah pilihan. Ketika kita memilih bersama dengan seseorang walaupun apapun yang terjadi, itu adalah pilihan. Bahkan ketika kita menyadari bahwa masih banyak orang lain yang lebih menarik, lebih pandai, lebih kaya daripada pasanganmu dan tetap memilih untuk mencintainya, itulah pilihan. </span><span id="more-52"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: Arial;color: black">Perasaan cinta, simpatik, tertarik, datang bagai kesempatan pada kita. Tetapi cinta sejati yang abadi adalah pilihan. â€œ Pilihan yang kita lakukan â€œ. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 11pt;font-family: Arial;color: black">Berbicara tentang pasangan jiwa, ada suatu kutipan dari film yang mungkin sangat tepat : &#8220;Nasib membawa kita bersama, tetapi tetap bergantung pada kita bagaimana membuat semuanya berhasil&#8221; Pasangan jiwa bisa benar-benar ada. Dan bahkan sangat mungkin ada seseorang yang diciptakan hanya untukmu. Tetapi tetap berpulang padamu. Untuk melakukan pilihan apakah engkau ingin Melakukan sesuatu untuk mendapatkannya, atau tidak&#8230; </span></p>
<p><span style="font-size: 11pt;font-family: Arial;color: black">Kita mungkin kebetulan bertemu pasangan jiwa kita, Tetapi mencintai dan tetap bersama pasangan jiwa kita adalah pilihan yang harus kita lakukan. Kita ada di dunia bukan untuk mencari seseorang yang sempurna untuk dicintai TETAPI untuk belajar mencintai orang yang tidak sempurna dengan cara yang sempurna</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faza.blogmalhikdua.com/2008/12/05/mencintai-yang-tidak-sempurna/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kisah Seekor Kupu-Kupu</title>
		<link>http://faza.blogmalhikdua.com/2008/12/05/kisah-seekor-kupu-kupu/</link>
		<comments>http://faza.blogmalhikdua.com/2008/12/05/kisah-seekor-kupu-kupu/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 05 Dec 2008 13:28:34 +0000</pubDate>
		<dc:creator>faza</dc:creator>
				<category><![CDATA[story]]></category>
		<category><![CDATA[cerita]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://faza.blogmalhikdua.com/?p=47</guid>
		<description><![CDATA[Di sebuah kota kecil yang tenang dan indah, ada sepasang laki-laki dan perempuan yang saling mencintai. Mereka selalu bersama memandang matahari terbit di puncak gunung, bersama di pesisir pantai menghantar matahari senja. Setiap orang yang bertemu dengan mereka tidak bisa tidak akan menghantar dengan pandangan kagum dan doa bahagia. Mereka saling mengasihi satu sama lain [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Di sebuah kota kecil yang tenang dan indah, ada sepasang laki-laki dan perempuan yang saling mencintai. Mereka selalu bersama memandang matahari terbit di puncak gunung, bersama di pesisir pantai menghantar matahari senja. Setiap orang yang bertemu dengan mereka tidak bisa tidak akan menghantar dengan pandangan kagum dan doa bahagia. Mereka saling mengasihi satu sama lain Namun pada suatu hari, malang sang lelaki mengalami luka berat akibat sebuah kecelakaan. Ia berbaring di atas ranjang pasien beberapa malam tidak sadarkan diri di rumah sakit. Siang hari sang perempuan menjaga di depan ranjang dan dengan tiada henti memanggil-memanggil kekasih yang tidak sadar sedikitpun. Malamnya ia ke gereja kecil di kota tersebut dan tak lupa berdoa kepada Tuhan Agar kekasihnya selamat. Air matanya sendiri hampir kering karena menangis sepanjang hari.</span><span id="more-47"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black"> </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Seminggu telah berlalu, sang lelaki tetap pingsan tertidur seperti dulu, sedangkan si perempuan telah berubah menjadi pucat pasi dan lesu tidak terkira, namun ia tetap dengan susah payah bertahan dan akhirnya pada suatu hari Tuhan terharu oleh keadaan perempuan yang setia dan teguh itu, lalu Ia memutuskan memberikan kpada perempuan itu sebuah pengecualian kpada dirinya. Tuhan bertanya kepadanya &#8220;Apakah kamu benar-benar bersedia menggunakan nyawamu sendiri untuk menukarnya?&#8221;. Si perempuan tanpa ragu sedikitpun menjawab &#8220;Ya&#8221;. Tuhan berkata &#8220;Baiklah, Aku bisa segera membuat kekasihmu sembuh kembali, namun kamu hrs berjanji menjelma menjadi kupu-kupu selama 3 tahun. Pertukaran seperti ini apakah kamu juga bersedia?&#8221;. Si perempuan terharu setelah mendengarnya dan dengan jawaban yang pasti menjawab &#8220;saya bersedia!&#8221;.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Hari telah terang. Si perempuan telah menjadi seekor kupu-kupu yang indah. Ia mohon Diri pada Tuhan lalu segera kembali ke rumah sakit. Hasilnya, lelaki itu benar-benar telah siuman bahkan ia sedang berbicara dengan seorang dokter. Namun sayang, ia tidak dapat mendengarnya sebab ia tak bisa masuk ke ruang itu. Dengan di sekati oleh kaca, ia hanya bisa memandang dari jauh kekasihnya sendiri. Beberapa hari kemudian, sang lelaki telah sembuh. Namun ia sama sekali tidak bahagia. Ia mencari keberadaan sang perempuan pada setiap orang yang lewat, namun tidak ada yang tahu sebenarnya sang perempuan telah pergi kemana.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Sang lelaki sepanjang hari tidak makan dan istirahat terus mencari. Ia begitu rindu kepadanya, begitu inginnya bertemu dengan sang kekasih, namun sang perempuan Yang telah berubah menjadi kupu-kupu bukankah setiap saat selalu berputar di sampingnya? Hanya saja ia tidak bisa berteriak, tidak bisa memeluk. Ia hanya bisa memandangnya secara diam-diam. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Musim panas telah berakhir, angin musim gugur yang sejuk meniup jatuh daun pepohonan. Kupu-kupu mau tidak mau harus meninggalkan tempat tersebut lalu terakhir kali ia terbang dan hinggap di atas bahu sang lelaki. Ia bermaksud menggunakan sayapnya yang kecil halus membelai wajahnya, menggunakan mulutnya yang kecil lembut mencium keningnya. Namun tubuhnya yang kecil dan lemah benar-benar tidak boleh di ketahui olehnya, sebuah gelombang suara tangisan yang sedih hanya dapat di dengar oleh kupu-kupu itu sendiri dan mau tidak mau dengan berat hati ia meninggalkan kekasihnya, terbang ke arah yang jauh dengan membawa harapan. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Dalam sekejap telah tiba musim semi yang kedua, sang kupu-kupu dengan tidak sabarnya segera terbang kembali mencari kekasihnya yang lama ditinggalkannya. Namun di samping bayangan yang tak asing lagi ternyata telah berdiri seorang perempuan cantik. Dalam sekilas itu sang kupu-kupu nyaris jatuh dari angkasa.Ia benar-benar tidak percaya dengan pemandangan di depan matanya sendiri. Lebih tidak percaya lagi dengan omongan yang dibicarakan banyak orang. Orang-orang selalu menceritakan ketika hari natal, betapa parah sakit sang lelaki. Melukiskan betapa baik dan manisnya dokter perempuan itu. Bahkan melukiskan betapa sudah sewajarnya percintaan mereka dan tentu saja juga melukiskan bahwa sang lelaki sudah bahagia seperti dulu kala. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Sang kupu-kupu sangat sedih. Beberapa hari berikutnya ia seringkali melihat kekasihnya sendiri membawa perempuan itu ke gunung memandang matahari terbit, menghantar matahari senja di pesisir pantai. Segala yang pernah dimilikinya dahulu dalam sekejap tokoh utamanya telah berganti seorang perempuan lain sedangkan ia sendiri selain kadangkala bisa hinggap diatas bahunya, namun tidak dapat berbuat apa-apa.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Musim panas tahun ini sangat panjang, sang kupu-kupu setiap hari terbang rendah dengan tersiksa dan ia sudah tidak memiliki keberanian lagi untuk mendekati kekasihnya sendiri. Bisikan suara antara ia dengan perempuan itu, ia dan suara tawa bahagianya sudah cukup membuat hembusan napas dirinya berakhir, karenanya sebelum musim panas berakhir, sang kupukupu telah terbang berlalu. Bunga bersemi dan layu. Bunga layu dan bersemi lagi. Bagi seekor kupu-kupu waktu seolah-olah hanya menandakan semua ini.</span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Musim panas pada tahun ketiga, sang kupu-kupu sudah tidak sering lagi pergi mengunjungi kekasihnya sendiri. Sang lelaki bekas kekasihnya itu mendekap perlahan bahu si perempuan, mencium lembut wajah perempuannya sendiri. Sama sekali tidak punya waktu memperhatikan seekor kupu-kupu yang hancur hatinya apalagi mengingat masa lalu. Tiga tahun perjanjian Tuhan dengan sang kupu-kupu sudah akan segera berakhir dan pada saat hari yang terakhir, kekasih si kupu-kupu melaksanakan pernikahan dengan perempuan itu. Dalam kapel kecil telah dipenuhi orang-orang. Sang kupu-kupu secara diam-diam masuk ke dalam dan hinggap perlahan di atas pundak Tuhan. Ia mendengarkan sang kekasih yang berada dibawah berikrar di hadapan Tuhan dengan mengatakan &#8220;saya bersedia menikah dengannya!&#8221;. Ia memandangi sang kekasih memakaikan cincin ke tangan perempuan itu, kemudian memandangi mereka berciuman dengan mesranya lalu mengalirlah air mata sedih sang kupu-kupu. Dengan pedih hati Tuhan menarik napas &#8220;Apakah kamu menyesal?&#8221;. Sang kupu-kupu mengeringkan air matanya &#8220;Tidak&#8221;. Tuhan lalu berkata di sertai seberkas kegembiraan &#8220;Besok kamu sudah dapat kembali menjadi dirimu sendiri&#8221;. Sang kupu-kupu menggeleng-gelengkan kepalanya &#8220;Biarkanlah aku menjadi kupu-kupu seumur hidup&#8221;. </span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify"><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Ada beberapa kehilangan merupakan takdir. Ada beberapa pertemuan adalah yang tidak akan berakhir selamanya. </span></p>
<p><span style="font-size: 10pt;font-family: Arial;color: black">Mencintai seseorang tidak mesti harus memiliki, namun memiliki seseorang maka harus baik-baik mencintainya.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://faza.blogmalhikdua.com/2008/12/05/kisah-seekor-kupu-kupu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
